Cinta kita.

aku bersyukur untuk cinta ini.

karena cintamu membuatku sungguh utuh.

kasihmu membantuku untuk berkembang.

cintamu nyata, sayang.

 

cinta kita bukan berpijak dari kesempurnaan,

tapi dari penerimaan terhadap masa yang telah lalu.

kasih kita memupuk harapan baik di masa depan bersama.

tumbuh dalam hal yang sederhana,

cinta kita nyata, sayang.

 

aku tak takut akan hal apapun,

karena cinta kita begitu hangat, dan ini cintaNya untuk kita.

 

kamu menatap mataku lekat  malam ini.

dan aku tersipu malu.

kamu kecup keningku.

dan aku ingin kamu.

 

Oh Tuhan, sungguh kusyukuri rahmat cintaMu untuk kami.

05042011

 

# Cinta itu selalu mendengarkan

Keeping the dialogue alive

Rabbi Iaakov’s wife was always looking for an excuse to argue with her husband. Iaakov never reacted to her provocations.
Until one night when, during a dinner with some friends, the rabbi had a ferocious argument with his wife to the surprise of all at the table.
“What happened?” they asked. “Why did you break your habit of never answering?”

“Because I realized that what bothered my wife the most was the fact that I remained silent. Acting in this way, I remained far from her emotions. My reaction was an act of love: now she understands that I hear her words.”

Paulo Coelho’s Blog, 10 SEC Read :  Dialogue

Aku belajar sesuatu dari papaku. Saat mengahadapi mamaku yang marah, ia hanya diam saja. kadang aku bingung, kok bisa ya, ia tahan seperti itu, kok bisa ia ga melawan. sisi positif yang bisa kuambil adalah, berdiam diri itu (Dalam pengertian dan porsi yang tepat) adalah emas. Berdiam disini lebih digambarkan sebagai wujud kesabaran (meski katanya, kesabaran orang itu ada batasnya). Berdiam disini kurasa bukan berarti acuh, namun bagian dari upaya bagaimana kita mencoba mengerti (memahami) apa yang sedang terjadi. Bukan mencari siapa yang salah dan siapa yang benar; namun menyadari kesalahan dari diri, sulutan kemarahan, pribadi partner yang sedang emosional itu; dan sadar bahwa sebenarnya marah ini adalah bentuk emosi yang wajar, bisa dikendalikan.

Seperti kisah yang diungkapkan Coelho diatas, papaku juga pernah akhirnya ikut marah dan tersulut emosinya. inilah yang juga aku pelajari, bahwa manusia tidaklah pernah sempurna. Dan pertengkaran itu semakin menjadi. Aku pernah menjadi bagian dari hal itu juga. Aku membiarkan diriku ikut marah dan menyangkal. Tapi ikut-ikutan marah atau terlibat dalam pertengkaran tidak pernah menyelesaikan masalah. Ketika membiarkan diri kita tersulut marah, kita tak pernah bisa melihat segala sesuatu dengan jelas. kita terus menumpukkan ‘bara’ di hati dan kepala kita masing-masing.

Namun kita juga bisa belajar. Ada masanya aku mencoba mengingat diri, dan melatih diriku untuk mengendalikan egoku. Di saat itulah, aku merasakan damai di hati yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Aku berusaha mengingat think out of the box; yang biasa digunakan oleh orang-orang dalam proses kreatif. aku merasa ini juga bagian dari proses kreatif kita sebagai manusia, dimana kita diberi kemampuan oleh Sang Pencipta untuk dapat seolah me-freeze-kan waktu dan emosi sesaat kita saat terlibat dalam suatu hal sulit. Berusaha melihat secara lebih makro dan keseluruhan, bahwa kemarahan, emosi negatif, juga memahami setiap porsi kesalahan yang diriku-dirinya-kita bersama buat dalam masalah ini. Menyadari diri kita sepenuhnya, dan belajar membuat  solusi yang tepat  dalam setiap masalah.

Di saat itulah, aku sadar, hanya berpasrah  ke Tuhan, Yang Maha Pengasih dan Penyabar, kita bisa menghadapinya. Aku pribadi merasa diingatkan, bahwa Sang Kuasa memiliki kesabaran dan kasih yang luar biasa bagiku dan bagimu, atas segala tingkah laku kita, yang seringkali buruk. Dan masing-masing dari kita diharapkan belajar, untuk tidak membalas segala sesuatu yang buruk dengan hal buruk juga, namun dengan kasihNya, yang selalu menjadi kontroversi–”aku disakiti, kok diminta mengasihi?”  namun juga selalu menjadi jawaban akhir dari kebesaranNya dalam hidup kita.

Saat aku berdiam diri ketika berkonfrontasi dengan orang yang marah atau menunjukkan emosi negatifnya kepadaku, aku sedemikian rupa bisa memahami porsi kesalahanku, baik versiku, maupun versinya. memahami pikirannya terhadap tingkah lakuku yang menyulutnya untuk marah.

Seketika itupula aku jauh lebih kuat dan damai, meski di luar badai masih mengamuk. Masalah masih tetap ada, namun  hati dan kepala tetap dingin untuk melihat segalanya lebih jelas. Dan aku selalu mencoba mengajaknya berbicara, setelah aku meyakini diriku sudahlah mendingin dan kuat, juga ‘badai’ dalam dirinya mulai mereda. Peace is not the absence of the war, but how you deal with it. Wise people ever said that, and i believe it. Meski masih jatuh bangun, pengalaman dealing with hard people,  buatku, menjadi pengalaman dealing with myself dalam mengolah emosi diri dan mengendalikan diri sendiri–yang begitu berharga buatku. Aku belajar mendengarkan segala kritik, mengenal tipe emosi dan belajar menghadapinya,  belajar menempatkan diriku dari sisi orang lain; dan banyak hal indah lainnya yang membuatku berpikir : tidak ada yang salah dengan setiap hal yang kukira tadinya masalah.

Aku terberkati dari setiap suka dan duka hidupku, dari setiap masalah dan pencapaian dalam hidupku, apapun itu.

The most important thing is, aku semakin tahu bahwa Tuhan selalu hadir dalam setiap masalah yang kita hadapi, dan membantu kita berjalan melaluinya; dengan cara yang begitu indah.

 

# Cinta itu selalu mendengarkan.

on the living room, 12.14 pm.

this image is taken from Paulo Coelho’s Blog. check his another  beautiful pieces on www.paulocoelhoblog.com

 

galau

mencari-cari dalam kotak hati

mutiara yang seharusnya memancar terang

terlalu lama mencarinya di luar

berharap masih memiliki kesempatan yang baik

menemukannya sebelum senja menjelang

berharap senantiasa dapat memberi yang baik

bagi yang lain

 

seperti anak burung ingin segera lepas sarang

berharap orang tuanya tak lagi khawatir dan bersedih

iapun belajar ingin mempercayai dirinya lebih

menikmati luasnya hidup di angkasa luas tanpa takut

karena Sang Pencipta melindungi

 

20 desember 2010.

 

 

hei Angel :)

I’ve got an angel, She doesn’t wear any wings.

She wears a heart that can melt my own
She wears a smile that can make me wanna sing
She gives me presents
With her presence alone
She gives me everything I could wish for

 

 

 

She gives me kisses on the lips just for coming home

She could make angels
I’ve seen it with my own eyes
You gotta be careful when you’ve got good love
Cause the angels will just keep on multiplying

But you’re so busy changing the world
Just one smile can change all of mine
We share the same soul. :)

play : Jack Johnson “Angel”. this is a lovely song for me :)

Blessed Day, November 12, 2010.

*) this illustration was taken from Google Images, 2010.

ApakahOma sudah pulang?

Hari ini aku membiarkan diriku duduk di kursi paling belakang, karena teman-teman yang biasa kukenal belum hadir. Aku melihat sosok Oma yang biasa dikenal oleh teman-teman yang lain begitu penuh semangat, melihat keterbatasan gerak yang ia alami karena harus menggunakan tongkat untuk berjalan. Sosoknya kecil dan rapuh. Ia bercerita disampingku hari ini tentang betapa baiknya Tuhan karena ketiga anaknya, yang kini sudah berkeluarga dan tinggal jauh darinya—dapat ia besarkan sendirian tanpa pendampingnya yang lebih memilih menikah lagi. Ia bercerita tentang kegiatan dan semangatnya melayani para penderita kusta di Sitanala hingga tua umurnya, betapa Tuhan lah yang ia layani seumur hidupnya. Berkali-kali saat teman-teman yang mulai berdatangan menyapa dan memberikannya tangan untuk dijabat, ia menolak untuk bersalaman, tanpa kutahu mengapa. Ia tidak menyombongkan diri, ia selalu merendah dengan mengatakan dirinya jelek, tua katanya. Aku tak pernah merasakan memiliki ataupun berjumpa langsung dengan oma yang begitu semangat bercerita, dan di sisa hidupnya, begitu semangat mengikuti kegiatan gereja sepertinya.

Apakah ia sudah pulang sekarang? Suara hatiku berteriak karena langkahku yang begitu salah.

Salah seorang teman yang selalu mengantarkannnya pulang kerumah dengan mobilnya pulang lebih dahulu hari ini. ia mungkin lupa soal oma, mungkin ada masalah mendadak di rumah. Sang oma takut pulang sendiri, padahal katanya, temannya itulah yang suka bilang, agar sang oma tak usah ragu datang, karena nanti dia akan mengantarnya pulang.

Ia bilang padaku, dan aku menatap matany yang penuh kerut. “Oma takut,yang” ia sepertinya kerap memanggil  semua orang dengan sebutan sayang. Ia bisa jalan sendiri menuju tangga waktu acara itu sudah selesai. Kemarin aku sempat membantunya, tidak memapahnya,namun mencoba berjalan lebih di depannya menuruni anak tangga, jika terjadi sesuatu yang buruk, aku berharap aku bisa mencegatnya di depan. Kali  ini suara di hatiku bilang, jika aku tak bisa mengantarnya, karena aku juga dijemput dengan notor, biarlah aku mencarikannya tumpangan. Tapi, suara itu tiba-tiba menghilang. Egois muncul, namun ia tampil elegan. ia tertutupi pernyataan yang lebih halus,

pasti oma bisa mendapatkan pengantar dari salah satu teman-teman yang ada di belakang sana.

Pasti ada kok.

Aku, menuju papaku yang sudah menungguku, pulang, dengan perasaan yang memarahiku yang bertindak setengah-setengah.

Aku percaya Tuhan memakai teman yang lain untuk menolong sang oma disana. But I missed that chance. Bukan membantu karena hanya kewajiban membantu yang tua, tapi suara dari dalam hatiku bagai berteriak. I just missed that chance. suara di hatiku terus menggedor aku, suaranya halus namun tegas. Iman, tanpa perbuatan, adalah mati.

Tuhan, ampunilah aku, padahal Kau pernah berjanji bahwa setiap orang yang mempunyai (semangat untuk berbuat), kepadanya akan diberi (kesempatan). tapi aku masih setengah-setengah.

Tuhan, ampunilah aku.

Apakah  oma sudah pulang?

keajaiban buatku.

keajaiban,

buatku,

adalah ketika aku mengetahuinya dengan benar-benar jelas,

karena aku sungguh-sungguh merasakannya,

arti kegembiraan yang meluap bahkan di saat sulit dan sakit.

hatiku seperti terselimuti,

aku yakin ini seperti yang dikatakan orang soal kasihNya.

dan tak sakit lagi meski telah tertusuk oleh duri yang sama.

kesabaran yang Sahabatku berikan membuatku bangkit lagi,

dan merasa begitu sanggup untuk menggembirakan

yang sering tersenyum menguatkanku  dan terluka.

the illustration was taken from google images.

sayapku.

Keraguan,

jadi batas diriku untuk membebaskan sayap lebarku.

kadang aku pun lupa aku punya sayap yang lebar.

dan memilih untuk hidup di batas itu.

hei!

aku mau terbang!

melesat lebih tinggi,.

dan aku tidak mau menunggu lebih lama lagi.

aku sang elang,

dan aku ingin hidup lebih sadar;

dan memohon padaNya untuk aku menikmati dan menggunakan sayapku

demi keindahan di langitNya,

demi kemuliaan bagiNya.

hidup penuh sadar,

penuh serah.

dan aku pun tersadar, Ia tengah membantuku menguatkan otot di sayapku !

Di sudut kamarku yang hangat, 17 Maret 2010

Illustration  was taken from Google images.