# Cinta itu selalu mendengarkan

Keeping the dialogue alive

Rabbi Iaakov’s wife was always looking for an excuse to argue with her husband. Iaakov never reacted to her provocations.
Until one night when, during a dinner with some friends, the rabbi had a ferocious argument with his wife to the surprise of all at the table.
“What happened?” they asked. “Why did you break your habit of never answering?”

“Because I realized that what bothered my wife the most was the fact that I remained silent. Acting in this way, I remained far from her emotions. My reaction was an act of love: now she understands that I hear her words.”

Paulo Coelho’s Blog, 10 SEC Read :  Dialogue

Aku belajar sesuatu dari papaku. Saat mengahadapi mamaku yang marah, ia hanya diam saja. kadang aku bingung, kok bisa ya, ia tahan seperti itu, kok bisa ia ga melawan. sisi positif yang bisa kuambil adalah, berdiam diri itu (Dalam pengertian dan porsi yang tepat) adalah emas. Berdiam disini lebih digambarkan sebagai wujud kesabaran (meski katanya, kesabaran orang itu ada batasnya). Berdiam disini kurasa bukan berarti acuh, namun bagian dari upaya bagaimana kita mencoba mengerti (memahami) apa yang sedang terjadi. Bukan mencari siapa yang salah dan siapa yang benar; namun menyadari kesalahan dari diri, sulutan kemarahan, pribadi partner yang sedang emosional itu; dan sadar bahwa sebenarnya marah ini adalah bentuk emosi yang wajar, bisa dikendalikan.

Seperti kisah yang diungkapkan Coelho diatas, papaku juga pernah akhirnya ikut marah dan tersulut emosinya. inilah yang juga aku pelajari, bahwa manusia tidaklah pernah sempurna. Dan pertengkaran itu semakin menjadi. Aku pernah menjadi bagian dari hal itu juga. Aku membiarkan diriku ikut marah dan menyangkal. Tapi ikut-ikutan marah atau terlibat dalam pertengkaran tidak pernah menyelesaikan masalah. Ketika membiarkan diri kita tersulut marah, kita tak pernah bisa melihat segala sesuatu dengan jelas. kita terus menumpukkan ‘bara’ di hati dan kepala kita masing-masing.

Namun kita juga bisa belajar. Ada masanya aku mencoba mengingat diri, dan melatih diriku untuk mengendalikan egoku. Di saat itulah, aku merasakan damai di hati yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Aku berusaha mengingat think out of the box; yang biasa digunakan oleh orang-orang dalam proses kreatif. aku merasa ini juga bagian dari proses kreatif kita sebagai manusia, dimana kita diberi kemampuan oleh Sang Pencipta untuk dapat seolah me-freeze-kan waktu dan emosi sesaat kita saat terlibat dalam suatu hal sulit. Berusaha melihat secara lebih makro dan keseluruhan, bahwa kemarahan, emosi negatif, juga memahami setiap porsi kesalahan yang diriku-dirinya-kita bersama buat dalam masalah ini. Menyadari diri kita sepenuhnya, dan belajar membuat  solusi yang tepat  dalam setiap masalah.

Di saat itulah, aku sadar, hanya berpasrah  ke Tuhan, Yang Maha Pengasih dan Penyabar, kita bisa menghadapinya. Aku pribadi merasa diingatkan, bahwa Sang Kuasa memiliki kesabaran dan kasih yang luar biasa bagiku dan bagimu, atas segala tingkah laku kita, yang seringkali buruk. Dan masing-masing dari kita diharapkan belajar, untuk tidak membalas segala sesuatu yang buruk dengan hal buruk juga, namun dengan kasihNya, yang selalu menjadi kontroversi–”aku disakiti, kok diminta mengasihi?”  namun juga selalu menjadi jawaban akhir dari kebesaranNya dalam hidup kita.

Saat aku berdiam diri ketika berkonfrontasi dengan orang yang marah atau menunjukkan emosi negatifnya kepadaku, aku sedemikian rupa bisa memahami porsi kesalahanku, baik versiku, maupun versinya. memahami pikirannya terhadap tingkah lakuku yang menyulutnya untuk marah.

Seketika itupula aku jauh lebih kuat dan damai, meski di luar badai masih mengamuk. Masalah masih tetap ada, namun  hati dan kepala tetap dingin untuk melihat segalanya lebih jelas. Dan aku selalu mencoba mengajaknya berbicara, setelah aku meyakini diriku sudahlah mendingin dan kuat, juga ‘badai’ dalam dirinya mulai mereda. Peace is not the absence of the war, but how you deal with it. Wise people ever said that, and i believe it. Meski masih jatuh bangun, pengalaman dealing with hard people,  buatku, menjadi pengalaman dealing with myself dalam mengolah emosi diri dan mengendalikan diri sendiri–yang begitu berharga buatku. Aku belajar mendengarkan segala kritik, mengenal tipe emosi dan belajar menghadapinya,  belajar menempatkan diriku dari sisi orang lain; dan banyak hal indah lainnya yang membuatku berpikir : tidak ada yang salah dengan setiap hal yang kukira tadinya masalah.

Aku terberkati dari setiap suka dan duka hidupku, dari setiap masalah dan pencapaian dalam hidupku, apapun itu.

The most important thing is, aku semakin tahu bahwa Tuhan selalu hadir dalam setiap masalah yang kita hadapi, dan membantu kita berjalan melaluinya; dengan cara yang begitu indah.

 

# Cinta itu selalu mendengarkan.

on the living room, 12.14 pm.

this image is taken from Paulo Coelho’s Blog. check his another  beautiful pieces on www.paulocoelhoblog.com

 

ApakahOma sudah pulang?

Hari ini aku membiarkan diriku duduk di kursi paling belakang, karena teman-teman yang biasa kukenal belum hadir. Aku melihat sosok Oma yang biasa dikenal oleh teman-teman yang lain begitu penuh semangat, melihat keterbatasan gerak yang ia alami karena harus menggunakan tongkat untuk berjalan. Sosoknya kecil dan rapuh. Ia bercerita disampingku hari ini tentang betapa baiknya Tuhan karena ketiga anaknya, yang kini sudah berkeluarga dan tinggal jauh darinya—dapat ia besarkan sendirian tanpa pendampingnya yang lebih memilih menikah lagi. Ia bercerita tentang kegiatan dan semangatnya melayani para penderita kusta di Sitanala hingga tua umurnya, betapa Tuhan lah yang ia layani seumur hidupnya. Berkali-kali saat teman-teman yang mulai berdatangan menyapa dan memberikannya tangan untuk dijabat, ia menolak untuk bersalaman, tanpa kutahu mengapa. Ia tidak menyombongkan diri, ia selalu merendah dengan mengatakan dirinya jelek, tua katanya. Aku tak pernah merasakan memiliki ataupun berjumpa langsung dengan oma yang begitu semangat bercerita, dan di sisa hidupnya, begitu semangat mengikuti kegiatan gereja sepertinya.

Apakah ia sudah pulang sekarang? Suara hatiku berteriak karena langkahku yang begitu salah.

Salah seorang teman yang selalu mengantarkannnya pulang kerumah dengan mobilnya pulang lebih dahulu hari ini. ia mungkin lupa soal oma, mungkin ada masalah mendadak di rumah. Sang oma takut pulang sendiri, padahal katanya, temannya itulah yang suka bilang, agar sang oma tak usah ragu datang, karena nanti dia akan mengantarnya pulang.

Ia bilang padaku, dan aku menatap matany yang penuh kerut. “Oma takut,yang” ia sepertinya kerap memanggil  semua orang dengan sebutan sayang. Ia bisa jalan sendiri menuju tangga waktu acara itu sudah selesai. Kemarin aku sempat membantunya, tidak memapahnya,namun mencoba berjalan lebih di depannya menuruni anak tangga, jika terjadi sesuatu yang buruk, aku berharap aku bisa mencegatnya di depan. Kali  ini suara di hatiku bilang, jika aku tak bisa mengantarnya, karena aku juga dijemput dengan notor, biarlah aku mencarikannya tumpangan. Tapi, suara itu tiba-tiba menghilang. Egois muncul, namun ia tampil elegan. ia tertutupi pernyataan yang lebih halus,

pasti oma bisa mendapatkan pengantar dari salah satu teman-teman yang ada di belakang sana.

Pasti ada kok.

Aku, menuju papaku yang sudah menungguku, pulang, dengan perasaan yang memarahiku yang bertindak setengah-setengah.

Aku percaya Tuhan memakai teman yang lain untuk menolong sang oma disana. But I missed that chance. Bukan membantu karena hanya kewajiban membantu yang tua, tapi suara dari dalam hatiku bagai berteriak. I just missed that chance. suara di hatiku terus menggedor aku, suaranya halus namun tegas. Iman, tanpa perbuatan, adalah mati.

Tuhan, ampunilah aku, padahal Kau pernah berjanji bahwa setiap orang yang mempunyai (semangat untuk berbuat), kepadanya akan diberi (kesempatan). tapi aku masih setengah-setengah.

Tuhan, ampunilah aku.

Apakah  oma sudah pulang?

She loves it.

She missed the calculation when she said she were ready to fly.

She just has to know it, and then realize to get it back.

She just wants to be free, and made free decision about her life.

She likes to hope.

She loves for being in her room, for now she could get herself,

and bent her knees to pray.

“He likes to talk to me, and I love to listen to Him,” said her.

He said, “You just have to know, dear my child, I love you,”

And she loves it.

cheers her morning, 2010.

Illustration  was taken from Google images– Erin McPhee’s illustration, 2009.

Parischa, You Rock! :)

Beberapa minggu ini aku kembali ke rumahku, setelah aku memutuskan untuk menunda skripsi di semester depan. aku berpikir dalam beberapa minggu ini aku sedikit tidak produktif, mengingat bahwa teman-temanku masih banyak yang memperjuangkan sidangnya dan aku terdiam di rumah dan menjadi lapuk; yang menjadikan semuanya begitu sulit untuk diteruskan. aku mengambil keputusan untuk menunda yudisium ku tahun ini seperti yang kucita-citakan dari awal. sebel juga sih, tapi aku punya lebih banyak hal positif yang bisa kusyukuri, termasuk waktu lebih banyak untuk mempersiapkan skripsiku nanti dan bagaimana aku menjaga hubunganku dengan keluargaku yang kurasakan jauh sejak beberapa bulan ini bisa kubuka lebih baik saat aku banyak di rumah : )

Pagi hari ini kucoba untuk membaca harian langganan keluargaku, Seputar Indonesia. kubuka-buka halamannya, mulai dari halaman opini, dari soal dana Aspirasi DPR yang menggelitik, sampai kasus video Luna-Ariel. dari soal kehebohan jelang Piala Dunia, hingga kasus hutang Bakrie. ku skip semuanya. sampai aku menemukan satu kolom kecil di halaman belakang yang menarik perhatianku, karena di situ  tertulis : Melalui Tulisan Ajak Orang untuk Selalu Berpikir Bahagia. akupun tertarik membacanya.  sejenak pikiranku melayang bahwa beberapa bulan yang lalu aku bergabung dengan komunitas penulis muda , dan kami banyak dibimbing disana untuk menemukan passion kita masing-masing ketika menulis. disana aku mendapatkan semangat yang lebih besar–dan aku yakin suatu saat bisa menulis untuk sekedar menyenangkan diriku, dan syukur-syukur jika sungguh bisa menginspirasi orang lain. hei, sepertinya dia melakukan apa yang ingin sekali kubisa lakukan.

wanna know deep about this guy!

ini dia. Neil Pasricha namanya. despite the fact that he’s smile quite gorgeous to me : ) (hehe), pria Kanada ini mampu menginsirasi orang lewat kejadian-kejadian kecil yang kita alami sehari-hari dan nampak sepele. yang jelas, dia memulai semuanya tepat setelah ia mengalami dua kejadian buruk bersamaan :istrinya meninggalkan dirinya, dan sahabat dekatnya memilih untuk bunuh diri. yang jelas, sejak memulai blognya di tahun 2008, kini ia sudah memiliki 1000 hal, kejadian, cerita, yang selalu ia sebutkan sebagai an awesome things to reflected. saat ini blog nya  www.1000awesomethings.com telah dikunjungi lebih dari 15 juta hits, dan mampu menginspirasi para pembacanya dari berbagai negara.

lihat saja tulisan sederhananya di Drying Your hands on your pants. Teringatlah aku akan kebiasaanku saat memilih untuk selalu mengeringkan tangan setelah mencuci tangan di wastafel ke paha celana  (mamaku sering bilang bahwa kebiasaanku itu jorok dan ga enak diliat). namun bagiku, aku suka saja melihat tapak tanganku di paha, meski agak terganggu dengan basahnya sih. atau di tulisannya yang kusuka, Getting Through It. hey,  akupun sering menulis hal-hal sederhana dari sisi yang positif, hasil refleksiku, dan kupikir aku bisa memulainya kembali dengan lebih semangat.

: )

dalam situs Globe Life, dimana ia diwawancarai tentang peluncuran buku barunya yang merupakan kumpulan dari tulisannya di blog “1000 Awesome Things” , Sarah Hampson, sang penulis artikel menuliskan bahwa Neil sangatlah humble dan tidaklah mau disebut sebagai penulis, dan terus menjalani kehidupan biasanya di bidang marketing di Wal-Mart. ia bahkan tidak menyebutkan gelar MBA nya dari Harvard sebagai the-most-noteworthy-wonders of the world he wants others to notice. wow, that’s awesome.

so, back to earth, aku melihat bahwa di dalam hidupku, dan juga hidupmu, pastilah banyak hal yang kita bisa refleksikan sebagai hal baik yang bisa membuat kita tertawa, dan yang jelas, semakin besyukur. so, why don’t we start it now? think  it’s gonna be awesome, right? : ) : )

*hey, kupikir-pikir lagi, keputusanku itu  juga awesome : )

di sudut kamarku,

awal Juni 2010.

Illustration  was taken from Google images.

thankful

Pengalaman adalah guru yang terbaik.

penggalan pepatah lama itu memang lama terselip di benakku, entah kemana–mungkin sejak aku menutup buku-buku SMA.

namun saat ini, pepatah itu menjadi tema hidupku. Betapa aku bersyukur buat setiap hal yang kualami dan selalu meneguhkanku.

Terima kasih tanteku :dari luka batin, keraguan, hingga belajar mencintai

hal pertama yang begitu kusyukuri adalah, bahwa tangan Tuhan menunjukkan jalan bagiku untuk kembali dekat denganNya melalui tanteku dan keluarganya. aku bersyukur bahwa Dia memakai tanteku untuk membantuku keluar dari rasa kegamangan, sedih, dan keragu-raguan dalam melakukan tanggung jawab yang diberikan.

Continue reading

Semangat!

it’s been three days since I finally got a calling from the St. Carolus Hospital; that I get the approval for being apprentice for the next three months. Thank you Lord for your love to me.

I woke up in this morning; my mom even cannot wake us with horrible yelling that could makes us on a bad mood for the whole days.

I made this call, and thanks again, the secretary not using her high voices as usual.

Continue reading

Minggu siang bersama Sahabatku

Minggu pagi kemarin, aku memutuskan untuk mengikuti misa pagi di pastoran mahasiswa di dekat kampusku. Hal ini baru pertama kali kulaksanakan, setelah di setiap kesempatan aku memutuskan ke gereja yang lebih jauh jaraknya. Pagi itu sepertinya aku memiliki semangat yang lain untuk mengikuti misa di pastoran. Entah mengapa.

Dengan misa yang sederhana, Romo Yumar memimpin misa persiapan ujian tengah semester tersebut di dalam pendopo. Bersama anak-anak dari fakultas lain, aku pun mengikuti misa di pagi ini selama kurang lebih satu jam.

Sudah lama aku tidak bersua dengan teman, sahabat, sekaligus ayahku, Romo Yu; begitu sapaan hangat yang biasa ia terima dari teman-teman mahasiswa. Namun pagi hari kemarin, aku bersyukur untuk kesempatan baik ini, dimana aku bisa kembali diteguhkan olehnya.

Ya, buatku, beliau adalah sahabat terbaik yang telah menguatkan aku ketika mengalami segenap masalah sejak aku memasuki dunia kampus—bahkan beliau adalah tempat curhat aku soal cowok yang pernah aku suka, dan bagaimana masalah dalam keluargaku.

Continue reading

cinta [sama] monyet!

Tahu tidak, teman-teman lebih bilang matamu itu sayu?

Tapi bagiku mereka indah

Keringatmu selepas bermain basket akan  selalu tercium harum

Canda dan tawa kita yang remeh terasa begitu penting

Dekatmu seperti menghantarkan puluhan capung  dalam perutku

hangat sentuhanmu di tengkukku seperti berbisik

Seakan seluruh lagu cinta mengiringi kisahku dan sang mentari

Akankah rasa itu selamanya?

Ah, hatiku memilih untuk tak banyak berpikir

Dan kamu tak pernah tahu itu

Di dalam sekotak nasi goreng yang kuhantar siang itu ke rumahmu

Dalam setiap rasa cemburuku

Kutaruh hatiku di sana

Sempurnanya angan terkadang membuatku sakit

Kamu tahu tidak?

Kamu pilih untuk tetap bermain dengan mereka

tatapanmu seolah berkata: aku cuma bermimpi

Dan aku sadar kamu cinta pertamaku

Tak ada penyesalan untuk apapun

Karena aku yang memilih,

karena aku yang  memiliki

akhir Oktober 2009

(bukan) Siti Nurbaya

berkebaya

“Huh, masih jaman ya, dijodohin, ini bukan jaman Siti Nurbaya lagi, kan!”

Kita pasti hapal benar dengan rangkaian kalimat itu–yang sering jadi kalimat pamungkas di adegan-adegan favorit dimana pemainnya enggan dijodohkan, atau bahkan terjadi di antara kita: seperti halnya yang saya alami beberapa waktu yang lalu.
Setahun yang lalu, kira-kira bulan Juli, saya bersama keluarga ke Pekalongan untuk menghadiri pernikahan sepupu saya dari kakak perempuan papa, bibi saya.

Continue reading